Refleksi Filosofi Stoisisme dalam Menghadapi Riuh-Riuh Politik

Era media sosial nampaknya (mungkin memang begitu) sudah mengubah makna “politik” dalam kehidupan masyarakat kita. Politik tidak lagi terkesan sebagai pembahasan “kaku”, topik “membosankan”, obrolan orang-orang “tua” yang hanya diobrolkan bapak-bapak di warung sambil minum kopi. Politik kini memiliki makna yang berbeda di masyarakat kita, pembicaraan tentang politik kini sudah mulai agak dominan, para anak-anak muda “gaul” yang dulunya terkesan “bodo amat” terkait politik, kini sudah mulai jadi “aktivis online” (bahkan offline) ketika pembicaraan tentang politik mengemuka. Hal ini tentunya tidak mengherankan, mengingat informasi kini layaknya oksigen yang kita hirup setiap harinya, sangat melimpah, tidak tersaring, masuk tanpa kita minta, dan kadang bahkan kita percayai tanpa kita ingin. Informasi yang kini dapat kita nikmati dengan cepat dan bebas ini nampaknya berdampak kepada meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap politik, sekarang pembahasan politik sudah sangat umum bukan?. Hal ini sebenarnya dapat sangat bermanfaat untuk perkembangan perpolitikan di Indonesia, hahkan seharusnya dapat meningkatkan kualitas sistem politik kita sekalian. Namun kadang justru menghadirkan berbagai dampak negatif yang tidak bisa dipandang remeh, salah satunya adalah “terlibat dalam kisruh dan riuh politik secara online”. Salah satu contoh fenomena yang dapat kita lihat adalah fenomena yang belum lama ini terjadi “Pilkada DKI 2017”. Pemilihaan Kepala Daerah (Pilkada) tersebut bisa dikatakan sebagai Pilkada paling riuh sepanjang sejarah Indonesia yang saya ikuti. Ini bagi saya yang kebetulan belum hidup terlalu lama. Pilkadan ini memecah masyarakat menjadi dua, dengan isu SARA yang amat tidak terkendali, yang diboost oleh media sosial, framing-framing, dan hoaks yang bertebaran. Parahnya, masyarakat yang terpecah menjadi dua tidak hanya di Jakarta, riuhnya merambat hingga ke hampir seluruh provinsi di Indonesia, tidak terkecuali NTB tempat saya tinggal. Orang mendadak peduli terhadap Pilkada daerah lain, menjadi aktivis/tim sukses atas pilkada daerah lain, bahkan beberapa berani melabeli orang-orang berdasarkan dukungannya terhadap paslon yang bahkan “mereka sama-sama tidak bisa pilih”. Sungguh terlihat seperti sebuah kegilaan fenomena polarisasi pada masa itu. Sialnya, fenomena itu masih berlanjut sampai hari ini di beberapa kelompok, dengan “julukan-julukan” yang bahkan masih hangat. Riuh-riuh politik ini tidak hanya berdampak buruk untuk kesehatan lingkungan sosial kita, namun berdampak buruk juga untuk kesehatan mental kita. Kondisi politik dengan polarisasi yang tajam, kerap kali membuat kita cemas atas sesuatu yang kadang sama sekali tidak perlu dipedulikan dan tidak memberi dampak apa-apa sama sekali terhadap kehidupan kita (seperti paslon pilihan di pilkada daerah lain misalnya). Sumber kecemasan atau bisa dibilang “hal-hal yang berpotensi” menimbulkan kecemasan ada begitu banyak, mulai dari pekerjaan, studi, relationship, ekonomi dan lain sebagainya, belum lagi kalau ditambah oleh kecemasan “politik”, kondisi jiwa bisa tambah berantakan, dan memang kecemasan ini menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi generasi ini. Berkaitan dengan kecemasan tersebut, seorang penulis, Henry Manampiring pada tahun 2017 membuat “Survei Khawatir Nasional” yang dilakukan selama seminggu dengan 3.634 responden yang dilahirkan antara tahun 1980-2000. Survei ini menanyakan tingkat kekhawatiran responden terhadap beberapa aspek dalam kehidupan diantaranya studi, relationship, pekerjaan, hingga kondisi sosial politik di Indonesia. Dari beberapa aspek kekhawatiran dalam kehidupan tersebut didapati bahwa ternyata kondisi sosial politik di Indonesia menempati posisi puncak dalam kekhawatiran para responden dengan persentase mencapai 76 %, disusul studi 53 %, pekerjaan 33 %, dan relationship 30 %. Lantas, mengapa manajemen kekhawatiran menjadi penting?, ada apa di dalam kekhawatiran sehingga ia perlu dimanage?.Keadaan seperti kecemasan/kekhawatiran, sedih, marah, dll, tidak hanya buruk tidak hanya untuk kesehatan mental, namun berdampak juga terhadap kesehatan fisik karena sejatinya keduanya berkaitan erat. Kondisi yang menyebabkan stress meningkatkan adrenalin yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah, menyempitkan pembuluh darah yang dalam jangka panjang akan meningkatkan produksi hormon kortisol yang jika menempel di pankreas akan meningkatkan insulin. Kondisi mental yang berdampak terhadap kesehatan fisik ini disebut psikosomatik. Kita tentunya tidak ingin permasalahan mental yang sudah cukup menyusahkan ini berdampak terhadap kesehatan fisik kita, yang akan semakin mempengaruhi kondisi mental kita (karena penyakit fisik), yang kemudian memperparah sakit fisik kita, dan akan menjadi lingkaran setan jika tidak di manage dengan baik. Saya pernah mengenal seorang teman yang bahkan bisa bertambah tingkat stress hanya dengan mendengar berita yang negatif. Ini menunjukkan bahwa informasi negatif sekalipun di tempat yang jauh dan tidak berkaitan dengan penerima dapat mempengaruhi kondisi mental, dan tentunya teman saya tersebut bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah serupa.Generasi muda yang berada dalam era informasi sekarang ini tentunya memerlukan solusi dalam menghadapi kecemasan dalam aspek-aspek kehidupan mereka, untuk menghadapi permasalahan pribadi dan sosial dengan lebih bijak dan tidak memperkeruh suasana. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat aliran filsafat tua yang uniknya masih sangat relevan dalam kehidupan manusia, khususnya dalam menjawab persoalan di atas, filosofi tua tersebut adalah “Stoisisme”.Stoisisme mungkin dulunya masih jarang didengar, bahkan mungkin seperti sebuah kata yang asing sebelum buku Henry Manampiring “Filosofi Teras” mulai populer dan menghiasi rak-rak toko buku. Buku ini sendiri mendapatkan penghargaan Book of The Year 2019 versi Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Buku ini dapat dikatakan muncul disaat yang sangat tepat, dikala generasi muda sedang dilanda permaslahan-permaslahan mental seperti overthinking, kecemasan (anxiety), bahkan depresi. Media sosial seolah menjadi “katalis” bagi masalah-masalah mental tersebut untuk berkembang, overthinking karena kebanyakan menerima informasi dan melihat hidup orang lain kemudian membandingkannya dengan kehidupan sendiri, cemas karena informasi yang terus diterima sehari-hari seringkali negatif (entah politik, perekonomian negara, STAN yang tidak buka pendaftaran sampai 2024 dll), dan kadang berujung depresi, karena masalah hidup di dunia nyata bergabung dengan permasalahan hidup di dunia maya. Buku ini menguak di waktu yang tepat. Lalu apa sebenarnya Stoisisme/Filosofi Teras ini?.Stoisisme jauh dari filsafat “berat” dengan perenungan yang mendalam dan mengawang-awang (seperti nihilisme, eksistensialisme dan semacamnya). Seperti yang dipaparkan dalam buku Filosofi Teras, filosofi ini sangat praktikal dan realistis. Inti dari filosofi ini adalah hidup bebas dari segala emosi negatif, dengan mampu mengontrol persepsi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dengan membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita. Hal itu, yang dalam filosofi stoisisme disebut sebagai dikotomi kendali. Dengan memisahkan hal yang berada dalam kendali kita dan yang tidak, kita akan menyadari bahwa terdapat hal-hal yang tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan kita, sehingga kita akan menyadari bahwa menggantungkan harapan, kecewa, atau marah kepada sesuatu yang berada di luar kendali kita adalah tindakan tidak rasional yang kita sering terjebak di dalamnya. Seringkali ketika kita dihadapkan pada situasi yang berpeluang menghasilkan emosi negatif kita malah menyambutnya dan memperkuatnya melalui persepsi kita terhadap situasi tersebut tanpa kita sadari, misalnya ketika kita mendapat nilai buruk, kita seringkali menanggapinya dengan menyalahkan diri sendiri dengan berlebihan, mengulang-ulang masa lalu dalam pikiran kita, menyesali kenapa kita tidak belajar dengan lebih giat, bahkan bisa jadi menyalahkan teman-teman yang mengajak nongkrong (padahal kitanya juga yang mau). Pada akhirnya itu membuat emosi negatif tersebut menguasai pikiran kita dan merusak mood kita, mengganggu orang-orang disekitar kita, dan kesemuanya itu “tidak mengubah apa-apa” selain mengalihkan kita dari memikirkan solusi dan perbaikan untuk kedepannya karena kita hanya sibuk memikirkan masalah.Contoh lain misalnya, ketika kita kehilangan uang, kita seringkali bersedih berlebihan, menyalahkan situasi yang terjadi, menyalahkan keteledoran kita secara berlebihan, marah-marah, yang pada akhirnya merusak mood kita dan mengganggu orang-orang disekitar kita, yang pada akhirnya tidak berdampak apapun terhadap kembalinya uang kita (tidak mengubah keadaan). Situasi panik dan tegang yang tidak kondusif menjauhkan kita dari ketenangan yang kita butuhkan untuk mencari solusi. Ini juga terjadi ketika kita berhadapan dengan keributan politik negara, kita seringkali memperpanas situasi dengan emosi kita terhadap pendapat orang yang ngawur, provokatif, dan berbau sara di media sosial mengenai politik, yang membuat kita bukannya menjadi antitesa dengan sikap yang bijak dan balasan komen yang terdidik serta sopan malah ikut mengamuk dan membalas dengan kata-kata kasar yang justru membuat perdebatan menjadi semakin keruh dan kurang argumentatif. Kejadian seperti ini juga sangat mungkin untuk memberi makan emosi negatif dalam diri kita, seperti marah, gusar, geram, jengkel, dan terhina yang jelas-jelas tidak sehat secara mental maupun fisik. Anggap kita telah menguasai dikotomi kendali dengan memisahkan hal-hal yang berada dalam kendali kita dengan yang tidak, namun emosi seringkali masih mengalahkan kita, lantas bagaimana Stoisisme memandang solusi untuk masalah ini?Henry Manampiring menuliskan dalam Filosofi Teras tentang langkah-langkah yang dapat diambil ketika kita mulai merasakan emosi negatif seperti sedih, marah, putus asa, frustrasi dan lain-lain. Langkah-langkah ini disingkat menjadi S-T-A-R (Stop, Think and Assess, Respond).Stop (berhenti)Ketika kita mulai merasakan emosi negatif, kita harus sadar dan berhenti terlebih dahulu, jangan biarkan diri terus larut dalam perasaan tersebut.Think and Assess (dipikirkan dan dinilai)Ketika sudah menghentikan emosi sejenak, kita sudah dapat kembali berpikir secara rasional, atau setidaknya memaksakan diri untuk berpikir secara rasional yang akan membantu kita untuk tidak melampiaskan emosi dengan tidak terkontrol. Setelah itu kemudian nilai, apakah emosi ini dapat dibenarkan, apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi kita atas peristiwa yang terjadi, dan apakah emosi yang kita alami berasal dari sesuatu yang ada dalam kendali kita atau di luar kendali kita.Respond Sesudah menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi baru kemudian kita dapat menentukan respon yang akan kita ambil, baik dalam bentuk ucapan ataupun tindakan. Dengan emosi yang sudah terkendali dan nalar yang sudah jernih baru kemudian keputusan paling tepat dapat diambil. Langkah-langkah tersebut mungkin bagi sebagian orang adalah informasi yang sudah diketahui, namun sering terdengar kata-kata seperti “tidak semudah itu dipraktekkan” atau “mana bisa begitu, ya namanya manusia wajar merasakan kesedihan dan larut di dalamnya”. Kesedihan tentunya sesuatu yang sangat manusiawi, menjadi tanda kemanusiaan kita, namun untuk bangkit dan tidak larut di dalamnya, sepenuhnya berada dalam kendali kita. Mengingat kutipan dari salah satu filsuf legendaris stoisisme, Epictetus yang berbunyi “Some things are up to us, some things are not up to us”, beberapa hal tergantung pada kita-di bawah kendali kita-, dan beberapa hal tidak tergantung pada kita (tidak di bawah kendali kita). Kutipan tersebut adalah informasi yang kita semua sudah ketahui, namun tidak sungguh-sungguh kita resapi. Jika kita telah mampu meresapi prinsip dikotomi kendali tersebut, kita akan menyadari bahwa berita negatif seperti kisruh pemilu di daerah lain, polemik pemilu negara lain, kerusuhan di pulau/negara lain, dan juga kemunculan orang-orang yang sering kita anggap sebagai toxic dan ignorant di internet berada di luar kendali kita. Kekesalan dan kecemasan kita terhadap semua hal di luar kendali kita tersebut, yang beresiko menyakiti diri kita ini tak mengubah apapun soal mereka, jadi mengapa harus marah?. Kita bisa saja berusaha menjadi online hero dengan mengalahkan orang-orang/akun bodong di media sosial dalam perdebatan, mengomeli kesalahan mereka, ataupun menggerakkan massa internet untuk ramai-ramai menghujat mereka, namun pada akhirnya berubah atau tidaknya orang itu tetap tidak berada dalam kendali kita, dia bahkan bisa saja tidak peduli sama sekali dengan yang kita katakan atau lakukan, lantas untuk apa menyiksa diri kita dengan emosi-emosi negatif?. Kita semua tentunya mengharapkan keadaan masyarakat yang damai, bebas dari ancaman kerusuhan, toleran, tidak reaktif, bijak, dan lain sebagainya. Namun sebelum itu, kita perlu menemukan damai di dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, sehingga upaya untuk mewujudkan keinginan akan kedamaian tersebut menjadi realistis. Di era informasi seperti saat ini, semua orang berpotensi untuk menjadi pemadam api maupun penyulut api, ketenangan dan sikap bijak dalam menghadapinya akan menentukan di pihak mana kita berada. Stoisisme dapat menjadi salah satu panduan dalam mencapai kedamaian diri tersebut, yang tentunya tidak dapat dibahas secara komprehensif di dalam artikel ini, jadi untuk selanjutnya sepertinya tidak ada ruginya untuk mendalaminya bukan?.

Penulis : Rayyan

Ilustrasi : Zulhan

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *