Fenomena seputar Covid 19: Denial hingga Herd Stupidity

Di kolom komentar beberapa posting-an terkait data terbaru Covid-19, sering kali saya menemukan komentar seperti ini. “ Matiin aja TV, nanti juga Corona hilang”, “Yuk, unfoll akun ini, beritain covid mulu”, bahkan ada yang sampai menyarankan “Makanya jangan dites, biar hilang koronanya”. Saya kemudian bertanya-tanya, kenapa bisa anggapan seperti ini muncul? Apa yang ditakutkan dari data-data covid-19 ini? Apa dengan berhenti memberitakan data Covid-19, virusnya bisa hilang? Apa dengan tidak melakukan test, orang-orang yang terkena covid bisa sembuh sendiri?

Kalau diingat-ingat, kita pernah sih ngikutin saran netizen untuk tidak meng-update data harian covid-19 ke media secara rutin. Hasilnya? Malah kaget sendiri pas kasusnya melonjak. Di awal pandemi, pemerintah melalui Kementrian Kesehatan rutin mengupdate kasus harian, bahkan pembaca datanya sempat gonta-ganti. Tak hanya itu, pemerintah daerah juga memiliki press release resmi data harian dalam bentuk PDF yang bisa diakses oleh masyarakat. Selang berapa lama, rutinitas itu tidak lagi dijalankan. Sampai beberapa waktu sebelum PPKM diterapkan, tiba-tiba data Covid-19 harian Indonesia masuk peringkat 3 besar di dunia. Dan barulah kita kembali rutin mengecek data harian covid.

Jadi, apakah dengan tidak memberitakan kasus harian covid itu menjadi solusi? Tentu tidak. Bagi saya, dengan rutin memantau kasus harian, kita akan jadi lebih aware terhadap kasus Covid-19 ini. Sehingga kita akan semakin taat pada protokol kesehatan kalau terpaksa harus keluar rumah. Atau kita bisa meminimalisir pertemuan yang kurang penting.

Berbicara soal penyangkalan atau denial, ada banyak tingkatannya. Dari mereka yang meminta jangan sering update data covid, jangan melakukan testing/tracing, yang menganggap covid ini tidak bahaya atau hanya seperti flu biasa, bahkan sampai pada level tidak percaya covid itu ada. Pertanyaanya, kenapa ada orang yang senang sekali mengelabui diri sendiri, ingin menciptakan keadaan yang seolah-olah baik-baik saja padahal tidak sama sekali. Bukankah menjadi denial itu hanya menempatkan kita pada ketenangan yang fana. Tengok saja pemerintah kita. Awalnya denial pada Covid-19, sekarang? Kelabakan jugakan.

Denial menurut Psikolog

Dijelaskan oleh Eve dan Mark Whitmore bahwa dalam psikologi, denial atau penyangkalan kerap disebut sebagai mekanisme pertahanan. Orang-orang tersebut melindungi dirinya dari kecemasan dengan mengembangkan strategi penyangkalan.
“Penolakan adalah cara untuk membela diri dari kecemasan. Ketika orang berada dalam banyak kecemasan dan itu dianggap sebagai ancaman, maka mereka mengembangkan strategi untuk melindungi diri mereka sendiri, rasa aman dan keselamatan mereka,” kata Mark dalam wawancara bersama CNN.
Ia juga menambahkan “Dan, salah satunya adalah dengan menyangkal apapun sumber ancaman itu. Dalam kasus ini, Anda cukup berkata, ‘Wabah adalah tipuan. Tidak benar-benar ada”. Tak hanya itu, penyangkalan juga dapat disertai dengan menambahkan informasi yang dapat menguatkan keyakinan mereka. Misalnya mereka mengakui bahwa Covid itu ada, tetapi tidak perlu ditakuti karena tidak begitu bahaya. Mereka menganggap Covid itu hanya flu biasa. Padahal, perlu diperjelas lagi, bahaya dalam persepktif ini sampai pada tahap apa? Apakah bahaya didefinisikan sebagai penyakit yang mematikan atau penyakit yang menyebabkan penyintas dirawat ke rumah sakit, atau seperti apa?
Lebih lanjut, ahli di atas menjelaskan bahwa maraknya penyangkalan ini erat kaitannya dengan informasi Covid-19 yang muncul dan berubah-ubah dan tak jarang kontradiktif. Hal senada juga diungkapkan oleh Psikolog Klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla bahwa ketidakmampuan mengendali situasi dan rasa takut berlebihan memicu sebagian orang mempercayai teori yang sesuai dengan anggapannya. Padahal, hal tersebut tak sesuai fakta.

“Dan karena dianggap sains-nya tidak memberikan kepastian juga, dan lagi sains punya konsekuensi perilaku yang harus dilakukan dan itu tidak menyenangkan, dan tidak nyaman, dan membuat stresfull. Lalu ditawarkan penjelasan yang lebih sesuai dengan apa yang diinginkan, ya why not. Dan konsekuensinya lebih positif. Jadi ya sudah,” jelas Veronica kepada CNNIndonesia.com.

Resiko Denial
Denial mungkin memberikan ketenangan, namun itu hanya sementara. Bagaimanapun, kita harus menghadapi realitas denga apa adanya. Jika denial terus-menerus dengan mengatakan bahawa virus ini tidak berbahaya, bisa jadi itu membawa kita pada petaka, karena kita akan bertindak sesuai dengan prasangka semata. Ketika menghadapi realitas dengan apa adanya, kita akan terpacu untuk menganalisis keadaan, mencari solusi dari keadaan tersebut, serta terjebak dalam ilusi yang kita ciptakan.

Mark Whitmore mengingatkan, penyangkalan terhadap kebenaran informasi bisa berbahaya karena tergolong sebagai maladaptif atau kesalahan dalam beradaptasi. Mekanisme denial tidak dapat membantu seseorang beradaptasi dengan ancaman yang muncul. Sebaliknya, cara ini justru memberikan peluang yang lebih besar bagi seseorang untuk terkena ancaman itu, seperti Covid-19.
“Dalam kasus pandemi, Anda bisa jatuh sakit karena jika Anda menyangkal, Anda merasionalisasi parahnya situasi. Maka Anda mungkin tidak akan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi diri Anda sendiri,” kata Mark.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Eve bahwa sikap penyangkalan sudah berkembang dalam diri setiap orang sejak masih berusia kanak-kanak. Pola asuh orangtua memiliki peran penting untuk menumbuhkan sikap dan penilaian anak terhadap suatu masalah.
“Ketika orang dewasa dibesarkan dalam lingkungan dimana kepercayaan yang tidak berdasar merupakan bagian dari asuhan mereka, mereka cenderung lebih percaya pada teori konspirasi dan hoax. Mereka juga cenderung membuat keputusan berdasarkan firasat dan ide serta bias yang terbentuk sebelumnya dibandingkan dengan menggunakan informasi faktual,” kata Eve

Dalam merubah pandangan seseorang, Mark menyarankan untuk dilakukan secara bertahap dengan mulai memberikan informasi yang kontradiktif atau berlawanan dengan teori yang diyakini sebelumnya dan faktual, serta hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri mereka sendiri. Saat orang tersebut mulai menerima kebenaran tersebut, tingkatkan intensitas informasi yang realistis secara bertahap sampai mereka sepenuhnya menerima kebenaran tersebut. Selain itu, memberikan contoh langsung juga dapat membuat mereka mempercayai kebenaran informasi. Misalnya, selalu gunakan masker, menolak ajakan bepergian yang tidak perlu, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Herd stupidity atau malas?
Menanggapi banyaknya orang-orang yang denial dan cerderung memberikan komentar yang terdengar bodoh, banyak orang melayangkan label “herd stupidity”. Namun, bagi saya ini bukan kebodohan, hanya saja kemalasan. Mari kita cek bagaimana proses berfikir menurut salah satu ahli psikologi yang pernah meraih penghargaan Nobel, Daniel Kahneman.
Daniel Kahneman membagi sistem berfikir ke dalam dua bagian, yakni Sistem satu (Automatic/fast) dan Sistem Dua (effortful/slow). Sistem Dua dalam skema Kahneman, adalah mode penalaran yang lambat, disengaja, analitis, dan penuh upaya (effortful). Sistem Satu, sebaliknya, adalah mode kami yang cepat, otomatis, intuitif, dan sebagian besar tidak disadari. Karena Sistem Dua bekerja lebih dan mendalam, tentu saja untuk dapat melakukannya kita membutuhkan lebih banyak energi. Sedangkan Sistem satu memproses informasi dengan cara yang cepat, biasanya ia memproses sebuah informasi berdasarkan informasi yang sudah ada sebelumnya.
Contoh, saya begitu akrab dengan kata “Oligarki” Suatu hari saya mengendarai sepeda motor dan melintasi sebuah bengkel, di depannya terdapat plang yang bertuliskan “Oli-Aki” sekilas tulisan tersebut saya baca “Oligarki”. Karena tidak yakin, saya baca ulang dengan seksama, dan ternyata saya salah baca, yang tertulis di sana bukan bukan “Oligarki” tapi “Oli-Aki”. Sistem Satu sering kali disebut automatic karena ia berdasarkan hal atau informasi yang sudah ada dalam memori.
Contoh lain, ketika menyetir misalnya, ini merupakan aktivitas yang harus dilakukan secara berulang-ulang, agar hal ini menjadi skill. Ketika seseorang sudah terbiasa menyetir, ia bisa saja menyetir sambil berbicara, melakukan aktvitas lain, atau bahkan menelpon seseorang. Karena dia sudah terbiasa dengan hal itu. Akan tetapi, bagaimana jika dia dipaksa untuk menyetir di situasi badai salju. Tentu dia akan lebih fokus dan berhati-hati karena belum terbiasa dengan situasi itu. Berfikir berhati-hati seperti sedang menyetir dalam kondisi badai tadi memang agak kurang menyenangkan. Itulah kenapa system dua itu disebut sebagai effortful, karena kita butuh mengerahkan lebih banyak fokus dan tenaga dalam menyelesaikan hal itu.
Hal serupa terjadi pada orang yang denial dengan mengatakan covid ini seperti flu biasa (note: dianggap flu biasa sebelum mencapai herd immunity lewat vaksinasi). Memori tentang flu sudah mereka miliki, mereka tahu gejalanya dan cara menanganinya. Ini lebih mudah diterima dibandingkan mempelajari informasi baru yang bernama Covid-19. Karena informasi tentang Covid-19 sejak awal masih minim dan cenderung berubah-ubah seiring dengan banyaknya kasus dan penemuan baru terkait virus ini dan variannya. Berfikir tentang Covid-19 sebagai virus baru sama melelahkannya dengan menyetir di medan yang baru (e.g. medan bersalju), kita dituntut untuk lebih teliti dan berhati-hati, dan tentu saja ini agak effortful atau bahkan stressful.

Seringkali kita tidak sadar, menginginkan otak memproses sesuatu dengan cepat, tapi hasilnya kurang akurat, itu bahkan bisa saja menyesatkan kita. Sistem dua bekerja lebih lama, butuh energi, tapi hasilnya lebih teliti. Sedangkan si sistem satu, dia bisa bekerja dengan lebih cepat tapi kurang akurat, ia hanya bekerja berdasarkan informasi yang ada sebelumnya. Tapi tentu saja, kedua sistem ini memiliki keunggulan dan fungsi masing-masing. Misalnya seperti ketika melihat kejadian yang menyedihkan, sistem satu akan bekerja dan responnya, bisa saja berupa “air mata” yang kemudian menggenan atau menetes. Intuisi lebih banyak dijalankan oleh sistem satu karena ia fast respond. Itulah kenapa sistem ini sering kali disebut intuitif.

So, apa sebenarnya kita herd stupidity? Bukan, hanya saja kita agak malas melatih si sistem Dua untuk memproses informasi dengan detail. Karena berfikir bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi seperti yang dikatakan oleh psikolog di atas, virus ini merupakan virus baru, sehingga butuh waktu untuk menjelaskannya. Science tidak memberikan kepastian karena ilmu pengetahuan berjalan dengan dinamis, beberapa informasi bisa berubah seiring bertambahnya temuan baru. (*)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *