Dari Takhayul menuju Science

Beberapa waktu lalu, saya pernah sakit gigi. Ketika bertemu dengan beberapa kawan, kami mengobrol perihal pengalaman ketika sakit gigi. Ada yang bercerita ia pergi ke dokter dan menemukan sakitnya tak kunjung hilang, dokter hanya memberinya obat pereda rasa nyeri. Akhirnya ia memutuskan pergi ke orang pintar yang mengobati sakit gigi dengan cara memalup sebuah paku ke kayu sambil membaca mantra. Saya juga memiliki pengalaman serupa ketika kecil dulu.

Ketika saya tanya apa sakitnya berkurang setelah diobati oleh orang pintar dengan cara seperti di atas tadi, jawabannya tidak. Lalu, kami sampai pada kesepahaman yang sama, ketika sakit kami memiliki kecendrungan untuk melakukan hal-hal yang kami tau itu tidak masuk akal, tapi tetap saja dilakukan.

Cerita di atas mungkin hanya satu dari sekian banyak pengobatan alternatif yang berbau takhayul yang sering kita jumpai sebagai orang Sasak. Ketika sakit perut atau sakit kepala, kita buru-buru minta “dibutus” (istilah dalam bahasa sasak untuk mendiagnosa apakah sakit itu dikarena arwah atau penunggu tempat tertentu). Ada juga yang ketika demam buru-buru meminta air jampi-jampi, dan masih banyak lagi.

Kita begitu dekat dengan hal-hal semacam itu. Namun, ketika berhadapan dengan pandemi Covid-19, agaknya kita dipaksa keluar dari zona nyaman berupa keyakinan pada hal-hal tadi. Keadaan menuntut kita untuk percaya pada ilmu pengetahuan modern yang lebih bisa diamati dengan indra (observasi) serta dianjurkan mengikuti arahan para scientist.  Proses peralihan ini tentu bukanlah hal yang mudah.

Science dan area abu-abu

Ilmu pengetahuan yang ada hari ini merupakan akumulasi dari banyaknya penemuan di masa lalu. Kita tak akan mampu mendeteksi keberadaan suatu virus tanpa mempelajari mikroorganisme. Kita takkan mampu menggunakan sinar-x tanpa menguasai fisika dasar. Tanpa memahami molekul dan usur-unsur kimia, tentu kita takkan mampu mengembangkan obat-obatan. Rasa penasaran akan alam menggiring kita pada penemuan-penemuan. Ketika krisis melanda, seperti yang terjadi hari ini, ilmu pengetahuan modern mampu memberi sumbangsih yang cukup besar dalam mengatasi pandemik Covid-19.

Di awal pandemik covid-19 mulai merebak, kita masih gamang, penyakit macam apa yang sedang menyerang warga di Wuhan, China. Kita juga bertanya-tanya, Bagaimana penyakit ini menular ? dari mana asalnya ? apa saja gejalanya?  dan tentu saja bagaimana cara mengatasinya?.  Para ahli bekerjasama dan meneliti fenomena ini. Selang beberapa waktu, ditemukan bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus jenis baru yang kemudian diberi nama Sar-Cov2 atau lebih dikenal dengan nama covid-19.

Selanjutnya, para ahli mulai mengetahui pola penyebaran virus ini melalui droplet (percikan cairan atau lendir yang dihasilkan saluran pernapasan) sehingga kita dianjurkan untuk menggunakan masker, mencuci tangan, serta menghindari kerumunan.  Setelah diketahui jenis virus, gejala, dan cara meminimalisir penyebarannya, para ahli kemudian meneliti DNA virus ini dan mulai mengembangkan vaksin. Vaksin yang dibuat pun beragam, ada yang menggunakan metode lama seperti pada vaksin polio, hepatitis A, flu, hingga rabies, ada juga dengan metode baru seperti mRNA. Hal-hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Tak hanya teknologi dalam mengembangkan vaksin Covid-19,  dalam melakukan screening pada pasien Covid-19 misalnya, ada beberapa jenis tes yang dapat dilakukan. Untuk screening cepat meskipun kurang akurat, kita bisa menggunakan Swab Antigen. Untuk tes yang lebih akurat tapi, lama dan mahal kita bisa menggunakan RT-PCR. Dengan kedua tes ini kita terbantu dalam mentracing virus sehingga dapat lebih cepat melakukan tindakan seperti isolasi pada pasien.

Kendati demikian, kita menyadari bahwa masih ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan oleh science. Area abu-abu ini sering kali menjadikan banyak dari kita distrust pada science. Misalnya, berapa lama kita bisa reinfected setelah dinyatakan sembuh ? Bagaimana bisa ada orang-orang yang asimtomatic atau tidak bergejala? Mengapa antibody karena vaksin bisa bertahan lebih lama dari yang terinfeksi secara alami?.  Science bisa menjawab sebagian, sebagiannya lagi masih menjadi area abu-abu yang sama-sama ingin kita pecahkan misterinya. Seiring bertambahnya data yang didapat, misteri ini tentu akan bisa dijawab. Karena ilmu pengetahuan terus bergerak dengan dinamis.

Dari Takhayul ke Science

Saya ingat ketika di-butus, orang pintar yang mem-butus membacakan mantra tertentu dan menarik rambutnya yang berada di ubun-ubun. Orang pintar tadi tidak akan menanyakan sakit apa yang dirasakan, layaknya dokter yang mendiagnosa pasien. Obat dari butus hanya dua, menghadiahkan Al-fatihah jika yang menyebabkan sakit itu adalah arwah, dan membaca surah An-Nas dan Al-Falaq jika yang membuat orang tersebut sakit adalah makhlus halus penunggu tempat tertentu (bakeq-beraq).  

Namun, ketika berhadapan dengan science, proses mendiagnosa sebuah penyakit lebih rigid atau kaku. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sampai pada kesimpulan. Pada pasien covid-19 misalnya, harus diketahui apa saja gejala yang dialami pasien? Apakah ia memiliki kontak erat dengan penyintas Covid sebelumnya?. Setelah itu akan dilakukan tes menggunakan alat screening cepat, jika positif akan dianjurkan untuk isolasi mandiri jika memiliki gejala ringan, dan akan diarahkan ke Fasilitas Kesehatan terdekat jika mengalami gejala berat. Jika hasil tes negatif, namun pernah memiliki riwayat kontak erat dengan penyintas, maka tetap akan diminta isolasi mandiri. Ini merupakan rangkaian prosedur yang mesti dilalui, dan tentu ini tak sesimpel meminta dibutus oleh orang pintar tadi. Karena prosedur itu panjang dan rigid, tentu  agak melelahkan bagi sebagian orang.

Melihat prosedur di atas, saya kemudian teringat pada video viral yang tersebar di sosial media dan sempat dipublish di salah satu media lokal Lombok. Ada seorang bapak yang tidak percaya pada hasil tes, lalu berkata pada petugas untuk berani bersumpah bahwa penyakit yang diderita salah satu anggota keluargnya itu adalah Covid. Salah satu kalimat si bapak yang saya ingat “Angkak, menurut keyakinan anda, ini covid apa tidak?”. Hasil tes tentu bukanlah berdasarkan pada keyakinan penguji, ia berdasarkan sampel yang diambil lewat rongga hidung pasien. Tidak seperti kasus meminta di-butus  pada orang pintar yang sering mengacu pada keyakinan orang yang mem-butus.  Kendati demikian persoalan utamanya adalah kita tak pernah dibiasakan untuk mempraktekkan dan berfikir berdasarian sience dalam pengambilan kesimpulan dan keputusan sehari-hari. Sience selama ini hanya ditempatkan di rak-rak buku sekolah formal, seolah-olah ia hanya sebuah disiplin ilmu yang hanya dipergunakan untuk mengukur standar kepintaran. Namun, dalam kasus tertentu sugesti-sugesti positif yang ditanamkan dalam takhayul perlu jua menjadi penyeimbang imun jiwa. Seperti kata orang bijak, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

(*) Alat yang digunakan memiliki kapasitas tertentu, tentu ada kasus false negative dan false positive jika menggunakan swab antigen, namun pada alat RT-PCR false positive jarang terjadi.

Ilustrasi : Cholenesia

Penulis : Hikmah

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *