“Kiprah Perempuan Sumatera Barat Dalam Isu Keberagaman : Dulu dan Saat Ini”

Mataram(26/09)- Sukses dengan Duta Damai NTB Talks #1 yang berkolaborasi bersama Sumatera Utara, Duta Damai NTB Talks #2 kembali hadir untuk berkolaborasi bersama Duta Damai Sumatera Barat dengan tema “Kiprah Perempuan Sumatera Barat Dalam Isu Keberagaman : Dulu dan Saat Ini”. Acara ini diadakan Hari ini (26/09) pada pukul 17.00 WITA secara virtual Live Instagram. Kegiatan Duta Damai NTB Talks ini merupakan program kerja tahunan untuk mengajak seluruh masyarakat mengenal lebih jauh tentang perkembangan daerah-daerah di Indonesia melalui bincang hangat yang menggaet 12 Provinsi Duta Damai di Indonesia dari Barat hingga Timur. Kegiatan diskusi dilakukan secara virtual agar masyarakat umum dapat bergabung dalam diskusi ini.Nuraini merupakan Koordinator Blogger Duta Damai Sumatera Barat yang juga aktif di Perempuan Berkisah Sumatera yang membahas tentang isu perempuan di Sumatera Barat. Pada kesempatan kali ini, Nuraini hadir sebagai narasumber pada Duta Damai Talks #2 perwakilan Duta Damai Sumatera Barat yang dipandu oleh moderator Heny Yolanda perwakilan Duta Damai NTB.

Sama halnya dengan Duta Damai dari Provinsi yang lain, Duta Damai Sumatera Barat juga dalam keadaan yang kurang memungkinkan untuk melakukan kegiatan secara luring. Kondisi Pandemi seperti ini membuat komunitas perpanjang tangan BNPT ini lebih banyak mengadakan kegiatan secara virtual sehingga waktu kegiatan lebih fleksibel dan dapat mengundang berbagai narasumber dari luar kota. Kegiatan daring ini bertemakan toleransi, perdamaian, literasi digital dan sebagainya, yang dikemas dalam bentuk bincang hangat dan santai maupun webinar. Ketika berbicara Sumatera Barat, kebanyakan orang selalu mengartikan bahwa keseluruhan dari Sumatera Barat adalah Suku Minang. Dan ketika menyebut Minang, kita akan teringat sebuah masakan khas berupa nasi padang. Padahal pada dasarnya Sumatera Barat ini tidak hanya Minang semata dan nasi padang semata. Sumatera Barat dan Minangkabau itu berbeda. Sumatera Barat terdiri dari 85% penduduk suku Minang dan 15% lainnya adalah imigran yang datang dan tinggal di Sumatera Barat seperti dari Nias, Mentawai, dan Batak dan sebagainya. Sedangkan, untuk Minang sendiri 100% dari warganya adalah orang pribumi atau masyarakat asli Minang itu sendiri tanpa ada imigran yang bercampur di dalamnya. Jadi yang ada di Sumatera Barat memang mayoritas dari suku Minang. Tolerasi di Sumatera Barat sendiri banyak di gembar-gemborkan sudah sangat baik. Namun, dalam kesehararian masih saja ada perlakuan yang membeda-bedakan antar suku, ras, maupun agama. Sebagai contoh di lingkungan sekolah negeri yang ada di Sumatera Barat. Sekolah-sekolah didominasi oleh Muslim, hal ini membuat sekolah memberlakukan wajib menggunakan jilbab bagi seluruh siswanya, padahal ada beberapa siswa Non-Muslim yang mengemban pendidikan di sana. Tetapi keluarga dari siswapun tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka pendatang. Untuk itu kita tidak bisa langsung percaya dari satu headline saja tentang multicultural tetapi, kita harus tanyakan langsung kepada orang yang mengalami yang menjalani kehidupan tersebut seperti apa di sana agar tidak gampang terdistraksi dengan berita-berita yang intoleran. Hal ini diungkapkan oleh Nuraini dalam diskusi virtual.

Selanjutnya, sebagai pemandu acara, Henny Yolanda lebih jauh menyinggung soal budaya merantau juga terkenal di Sumatera Barat. Dengan pepatahnya yang selalu dipegang dan dijalankan dengan baik yaitu Dima Bumi di Pijak di sinan Langik dijunjuang. Maksudnya, di mana kita berada di sana kita mengikuti aturan yang berlaku. Budaya merantau memang sangat melekat pada orang Minang. Kalau mereka sudah merantau mereka sudah memosisikan dirinya menerima budaya tersebut. Akan tetapi, dapat dilihat lagi jika orang lain yang merantau ke Minang apakah mereka sudah menerima perbedaan antara suku, ras, budaya, dan agama itu sendiri. Nyatanya tidak semuanya melakukan hal yang sama. Orang Minang bisa mengikuti merantau akan tetapi jika ada imigran dari luar, mereka harus bersedia mengikuti adat dan ketentuan yang ada di tempat tersebut dengan Malako Niniak Mamak. Para Imigran harus menemui Niniak Mamak untuk melakukan perundingan dan perjanjian. Jika sudah selesai dengan perjanjian tersebut maka hasil dari perjanjian tersebut yang akan di pegang teguh oleh masyarakatnya sampai saat ini.

°Peran Perempuan

Peran perempuan dalam keberagaman di Sumatera Barat bisa dilihat dari kiprah pemimpin perempuan bernama Bundo Kanduang yang pernah memimpin Minangkabau. Hal ini menjadi gambaran untuk perempuan Minang sendiri khususnya bahwa dulu orang Minang itu dipimpin oleh perempuan. Bahkan memimpin sebuah nagari atau suku. Banyak perempuan Minang yang memiliki peran untuk memajukan perempuan-perempuan lainnya untuk mendapakan akses yang sama. “Padang pariaman contohnya, masyarakatnya hidup berdampingan menerima perbedaan yang ada dengan benar-benar saling toleran secara sadar bahkan mereka dilibatkan di dalam berbagai sistem pemerintahan di dalam nagari tersebut. Mereka memiliki musolla, masjid, gereja” Ucap Nuraini. Nagari tersebut disebut sebagai Nagari Toleran yang ada di Sumatera barat Padang Pariaman. Ini merupakan salah satu nagari yang perlu di contoh. Hal ini terjadi karena dulu memang ada sejarah senasib seperjuangan antara muslim dan kristiani kala itu dengan visi dan misi yang sama untuk mendapat kebebasan dari sebuah penjajahan.

“Peran perempuan sendiri dari yang dulu dengan yang sekarang adalah di mana perjuangan perempuan yang dahulu lebih kepada hal yang sosial ,bagaimana menjaga perdamaian dengan sikap dan kasih sayangnya. Untuk perempuan yang sekarang lebih kepada personal tetapi sudah di tambah dengan isu agama, perbedaan keyakinan, suku dan agama. Peran perempuan di Minangkabau sangat istimewa karena perempuan di Minangkabau sebagai penjaga harta pusaka tertinggi, menjadi Bundo Kanduang dengan menganut sistem matrilineal garis keturunan ibu dan ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang akan tetap dilestarikan hingga hari ini” ungkap Nuraini.

“Pesan untuk perempuan dalam menjaga keberagaman, jadilah perempuan yang memanfaatkan naluri keibuan dengan hal-hal yang positif dan menebarkan pesan perdamaian dimulai dari diri sendiri, keluargamu, bahkan kaum luas dan mulailah menjadi perempuan yang mempunyai otoritas dirimu sendiri menjadi agent of peace dimulai dari rahimmu sendiri atau anak-anakmu sendiri karena anak yang akan menjadi penerus. Ketika ibunya tidak mampu mengajarkan untuk hidup rukun antar umat beragama atau orang di sekelilingnya, maka dia tidak akan bisa menjadi orang yang terbuka. Karena peran perempuan itu menjadi madrasah untuk menjadi agen perdamaian” Ucap Nuraini sebagai penutup diskusi sore hari ini. (CIP)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *