Talkshow Budaya Besutan Karang Taruna Lintas Adat Wet Sesait

Sesait, KLU—Karang taruna 4 desa di Kecamatan Kayangan, KLU yang masuk dalam kesatuan Wet Adat Sesait tunjukkan kepedulian pada aspek kebudayaan. Kepedulian tersebut dibungkus dalam sebuah acara bertajuk Talkshow Budaya: Wet Adat Sesait dalam Sesaat yang berlangsung pada Minggu (19/09).
Talkshow Budaya ini dilaksanakan di Bale Sangkep yang merupakan pusat wet adat dan terletak di Desa Sesait. Lima desa yang termasuk dalam Wet Adat Sesait antara lain Sesait, Santong, Pendua, Santong Mulia, dan Kayangan. Namun, pada acara tersebut pemuda dari Desa Kayangan tidak bisa teurut serta dalam acara.
Tujuan diadakannya acara tersebut untuk transfer knowledge antargenerasi, juga sebagai upaya untuk melestarikan adat dan budaya yang ada dalam Wet Sesait. Mengingat saat ini arus globalisasi sangat mengkhawatirkan dan dapat menghapus kearifan lokal jika tidak disikapi dengan bijak. Ditambah lagi dengan ketidaktahuan para generasi penerus tentang adat dan budayanya sendiri, hal tersebut dapat menjadi ancaman besar yang mampu merongrong kekayaan adat.
Pada sesi pembukaan, Ketua Panitia acara yang berasal dari Karang Taruna Merenten Desa Sesait melaporkan hal-hal teknis terkait dengan acara. Pemusungan atau Kepala Desa Sesait, Susianto, M.Pd menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada karang taruna empat desa yang turut aktif dalam penyelenggaraan acara ini.
“Kita ini secara administrasi memang terpisah, tetapi secara kultur atau wadah kita ini satu di kesatuan Wet Adat Sesait” tambahnya. Untuk diketahui bahwa 4 desa penyelenggara acara ini dulunya merupakan satu desa yang sama, tetapi seiring berjalannya waktu dan adanya perkembangan yang dinamis desa-desa tersebut akhirnya terpisah dan mendapat hak otonom masing-masing.
Mewakili generasi milenial, Yundari Amelia Chandra selaku Koordinator Regional Duta Damai NTB dan Yudi Ariadi CEO Lombook Indonesia memoderatori acara tersebut. Poin bahasan dalam Talkshow tersebut mengangkat sejarah, persebaran situs adat dan perspektif dari agama islam. Adapun narasumber dari acara tersebut adalah para tokoh yang berkapasitas pada tiap pokok bahasan yang disampaikan. Narasumber pertama, Pemusungan Sesait, menyampaikan tentang Sejarah Wet Adat Sesait. Menurut paparannya, Wet berarti scope atau batas kewilayahan.
Sejarahnya, Al-quran yang ditemukan di Desa Sesait berusia 600 tahun menurut para arkeolog nasional, sedangkan di Pulau Lombok diperkirakan berusia 400 tahun. Sebenarnya terdapat buku mengenai Sejarah Wet Adat Sesait, tetapi karena banyak narasi fiktif di dalamnya sebabnya buku tersebut batal dipublikasikan karena tidak memenuhi unsur kepenulisan ilmiah.
H.Djekat selaku tokoh adat Desa Sesait yang juga eks Pemusungan Sesait menyampaikan Adat dan Budaya Wet Sesait. Menurutnya, banyak orang memandang adat dari sisi ritual padahal pemaknaanya tidak sesempit itu. Wet Adat Sesait bahkan hampir seluruh masyarakat yang mendiami Pulau Lombok menganut ajaran Wirgame yang artinya adat bersendikan agama bersumber kitabullah. Pada Wet Adat Sesait sendiri terdapat hirarki tokoh yang disebut tau lokaq empat, yaitu, Pemusungan sebagai kepala wilayah, Penghulu sebagai pimpinan agama, Mangku Gumi sebagai pimpinan adat dan cocok tanam, dan Jintaka pimpinan ekonomi.
Terakhir,TGH Sukarman Azhar Ali menutupnya dengan Perspektif Agama dalam Adat dan Budaya Wet Sesait. Menurut Sukarman, secara hukum agama tidak cukup hanya dengan Al-Quran dan hadis tanpa dibarengi dengan ilmu akal. Ilmu akal yang dimaksud adalah adat yang merupakan hasil mufakat. Tetapi agama menjadi filter adat dan budaya agar tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
Peserta talkshow sangat aktif dan antusias dalam acara tersebut, terlihat dari berbagai komunitas kepemudaan yang hadir melontarkan pertanyaan kepada para narsumber. Talkshow tersebut diharapkan menghasilkan output yang dapat memberi wawasan pada generasi selanjutnya, baik berupa tulisan, dokumentasi, dan sebagainya. Tindak lanjut dari acara ini adalah pelibatan karang taruna lintas desa Wet Adat Sesait dalam menyelenggarakan acara adat tahunan yaitu Maulid Adat.
Meski mengundang pemuda lintas desa, acara tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan dan disiarkan langsung pada laman facebook KT Merenten.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *