TOLERANSI di TENGAH KONFLIK PANDEMI: Tinjauan Keberagaman Sosial di Masyarakat

Toleransi adalah sikap manusia yang mampu menghargai perbedaan antara individu dan suatu kelompok. Untuk membawa perdamaian dalam keragaman, seseorang harus mengadopsi sikap toleran. Secara etimologis, toleransi berasal dari bahasa latin yakni dari kata “tolerare”, yang berarti kesabaran dan kesederhanaan. Sedangkan secara terminologi, toleransi adalah sikap saling menghormati, menghargai, dan menyatakan pendapat dan keyakinan terhadap manusia lain yang bertentangan dengan diri sendiri.

 Kemudian, kaitannya dengan konteks bersosial masyarakat dan bernegara, jika tidak ada sifat toleransi itu, masyarakat Indonesia bisa jadi terancam apalagi pada saat konflik pandemi sekarang. Sehingga sikap maupun praktek toleran antar masyarakat dan dalam bernegara di tengah problem yang sama-sama kita hadapi saat ini mestinya mampu dijadikan sebagai landasan fundamental yang harus dijaga dan diharmonisasikan. Toleransi adalah suatu penghargaan, izin yang berbeda atau berlawanan dengan posisi sendiri dengan suatu pendapat, keyakinan, kebiasaan, dan perilaku.

Mengutip dari Cultivating a Tolerant Attitude in Children (2016), toleransi merupakan sikap dan penghargaan terhadap pendapat, keyakinan, kebiasaan, dan perilaku yang berbeda atau bertentangan di dalam sosial masyarakat. Sikap dan perilaku toleran terhadap keragaman sosial menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam bermasyarakat terlebih di dalam bernegara secara umum. Sikap ini mampu mencegah perpecahan di kalangan masyarakat yang majemuk seperti Indonesia. Lalu pertanyaannya adalah, mengapa penting memahami toleransi di dalam bersosial masyarakat di tengah pandemi Covid-19?

Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan pelbagai macam isi, termasuk di dalamnya ada manusia, hewan, dan tumbuhan. Masyarakat tentunya  memiliki bentuk keragaman yang tersebar di tiap-tiap daerah di Indonesia. Keanekaragaman itulah yang menjadi kekayaan dan keindahan. Sehingga alangkah baiknya jika keragaman suku, agama, rasa atau pun suatu golongan yang sering disingkat “SARA” dapat dijadikan sebagai modal bersama untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, terlebih bagaimana hal tersebut mampu tercermin dalam konteks bersosial masyarakat di tengah pandemi.

Kehangatan dan sifat toleransi antar masyarakat menjadi momen masyarakat bersatu, dapat saling bantu antar individu dan kelompok. Pandemi Covid-19 ini sekaligus sebagai hikmah bahwa masyarakat harus mulai dengan memahami apa itu toleransi dan kenapa penting dijaga. Pandemi mengajarkan masyarakat bagaimana harus mempraktekkan nilai-nilai toleran dalam keragaman di dalam masyarakat multikultural, keragaman kelompok dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Seperti contoh, di tengah pandemi saat ini masyarakat bisa memulainya dengan mengerti dan memahami perbedaan dengan memberikan kesempatan kepada golongan, saling tolong-menolong antarwarga, memberikan pelayanan yang baik terhadap kelompok masyarakat bawah, tidak membeda-bedakan siapa yang pertama dan terakhir, dan menghargai perbedaan pendapat, karakter, sosial budaya yang ada.

Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat memiliki keniscayaan yang hakiki. Sikap itulah yang mestinya dikembangkan dan terus dijaga di saat musim pandemi. Perlu diingat bahwa momentum ini sekaligus menjadikan kita kuat, bersatu, mampu saling bantu satu sama lain terhadap perbedaan dan keberagaman baik itu dari segi suku, ras, budaya, agama yang ada di masyarakat. Jika pandemi ini tidak pernah terjadi, mungkin masyarakat kita akan sibuk dengan pribadi masing-masing dan tidak akan pernah mampu saling tolong-menolong, gotong royong menyelesaikan permasalahan akibat coronavirus.

Sebab itu, permasalahan akibat pandemi maupun perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dilihat sebagai hambatan dalam mengulurkan tangan, membantu satu sama lain, peduli terhadap sesama sebagai masyarakat yang satu, memperlakukan masyarakat atas maupun bawah secara adil sehingga dengan  permasalahan dan perbedaan itulah  yang akan menjadi sumber kekuatan untuk membangun persatuan dan kesatuan nasional. Perlu ditekankan bahwa, perbedaan tidak menjadikan suatu masyarakat, etnis dan ras tertentu lebih tinggi derajatnya dibanding etnis yang lain. Hal yang membedakan adalah baik atau buruknya sikap dan perilaku seseorang, bukan etnis atau suku bangsa dan rasnya. Sikap toleran terhadap keberagaman suku dan ras itu dapat sama sama kita wujudkan dalam bentuk sederhana, bisa dmulai dengan;

  • Mengembangkan semangat persaudaraan sesama masyarakat dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan di tengah pandemi Covid-19
  •  Bersikap baik kepada semua orang tanpa memandang perbedaan
  • Memahami keanekaragaman sosial budaya yang terdapat di masyarakat dan yang dimiliki bangsa Indonesia
  • Merasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri

Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya terkait dengan keragaman suatu agama melainkan juga terdapat sifat toleransi sosial budaya antar masyarakat di tengah konflik pandemi Covid-19 saat ini. Sebab itu, perbedaan sifat maupun karakteristik masyarakat dalam kehidupan sosial sehari-hari seharusnya tidak menimbulkan perpecahan. Justru sebaliknya, dengan momentum pandemi inilah masyarakat mampu saling bantu sama lain sehingga  kebhinekaan itu menjadi motor penggerak untuk semakin memperkokoh kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika.

Penulis : Ali

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *