PRIHATIN PERNIKAHAN USIA ANAK, PEMUDA DESA SANTONG GELAR SOSIALISASI

Santong, KLU-Bantu pemerintah menekan angka pernikahan pada usia anak yang marak terjadi, Karang Taruna Desa Santong menggandeng Forum Generasi Berencana Kabupaten Lombok Utara yang dinaungi DP2KBPMD KLU. Upaya tersebut dibungkus dalam acara sosialisasi bertema Pendewasaan Usia Perkawinan pada 10/10/21 di Aula Pondok Pesantren Bayyinul Ulum Santong.

Menurut H. Djohan Sjamsu, Bupati KLU, pernikahan anak masih marak terjadi dan Lombok Utara. Angka ini menempati posisi tertinggi di NTB, dan secara nasional NTB berada di urutan kedua setelah Gorontalo. Hal tersebut merupakan PR bersama yang harus diperhatikan. Berangkat dari hal tersebut, pemuda yang tergabung dalam organisasi karang taruna galakkan tindakan preventif melalui sosialisasi.

Pernikahan usia anak tidak hanya menimbulkan persoalan pada satu aspek, menurut  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, perkawinan pada anak memiliki dampak yang cukup luas. terutama dampak yang paling banyak terjadi adalah tingkat kematian ibu dan anak terus mengalami peningkatan. Belum lagi dampak kesehatan dan kemiskinan yang dirasakan oleh anak-anak yang belum siap membina rumah tangga dengan baik.

Hadir dalam pembukaan sosialisasi, Kepala UPT BLUD Puskesmas Santong, Baiq Nirmalasari, dalam sambutannya mengungkapkan apresiasinya kepada karang taruna karena telah berinisiatif dan peduli pada isu ini, juga turut membantu program puskesmas yaitu PKPR.

 “Saya rasa kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama di masa dengan gempuran teknologi canggih yang bisa membuka peluang bagi generasi muda untuk melakukan berbagai hal, baik itu positif mau pun negatif“ tambahnya.

Nirmala juga akan mengupayakan kerja sama antara pihak puskesmas dengan Ponpes Bayyinul Ulum agar para santri yang berasal dari berbagai wilayah KLU dapat berobat gratis di Puskesmas Santong.

L. Junaidi, pengurus Ponpes Bayyinul Ulum turut mengapresiasi karang taruna dan menyambut baik kegiatan tersebut. Pihaknya meminta agar kegiatan serupa lebih sering diadakan, sebagai guru Junaidi juga turut kalut karena maraknya perkawinan usia anak di lingkungan ponpesnya.

Para santri yang berasal dari Ponpes Bayyinul Ulum dan Al-Baqiyatusshalihat NW Santong sangat antusias mengikuti acara tersebut. Mereka pro aktif dan mengikuti acara dengan tertib. Dikatakan oleh mereka teman-teman sebayanya sangat banyak yang sudah menikah dan memiliki anak sehingga menagalami putus sekolah.

Pilihan tersebut tidak hanya berdampak pada diri mereka, tetapi pada generasi selanjutnya karena pernikahan pada usia pertumbuhan sangat rawan terjadi stunting. Angka stunting di KLU juga tergolong tinggi mencapai angka 37,7%.

Hal tersebut ditegaskan oleh penyuluh dari Forum Generasi Berencana KLU, mereka juga menyampaikan dampak dari menikah sebelum waktunya dari berbagai aspek, termasuk kesehatan dan ekonomi. Selain itu, mereka juga menambahkan penjelasan mengenai fungsi-fungsi keluarga seperti, agama, kasih sayang, perlindungan, sosial budaya, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan.

Acara ini juga didukung penuh oleh pimpinan Pondok Pesantren Bayyinul Ulum Santong, TGH. Sukarman Azhar Ali. Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan foto bersama dan bersih-bersih aula.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *