Di Hadapan Dangdut Segala Tensi Mereda

Tak salah memang dangdut diberi gelar sebagai ‘music of my country’. Pasca viralnya penampilan penyanyi cilik yang santer diberitakan, yakni Farel Prayoga. Pasalnya, tak main-main artis cilik anyar ini tampil sebagai special performance dalam memeriahkan upacara hari kemerdekaan RI di istana merdeka. Lagu yang dibawakannya pun tak kurang asyiknya dengan bubuhan musik koplo. Sontak hal ini menjadi buah bibir jagat maya, sebab orang-orang kenamaan dan nomor satu di Indonesia berhasil terhipnotis dan ikut bergoyang mengiringi nyanyian Farel.

Video penampilan Farel pun akhirnya terus menjadi viral diberbagai platform. Dalam salah satu komentar seorang warganetpun mencuitkan “pak prabowo nggak apa-apa pak? Dihatinya dia gak ada bapak. Aman ya pak”. Inipun menjadi sangat menarik, akhirnya saya pun menyadari alasan mengapa setiap kali sebuah kampanye tak afdhol jika tanpa menghadirkan orgen dangdut. Ibarat kata di hadapan dangdut segala tendensi mereda, sebagaimana yang nampak pada layar kaca.

Selain itu, segala aspek upacara kemerdekaan lalu tak ada yang luput dari perhatian warganet. Nyanyian dangdut yang dibawakan farel juga berhasil menghipnotis juru bahasa isyarat yang nampak sangat asyik saat menerjemahkan, bahkan sembari diikuti joget-joget kecil. Video ini pun akhirnya menjadi viral juga. Nampaknya irama gendang dan perpaduan suara farel telah berhasil memberikan hiburan bagi rakyat Indonesia saat menyambut dan memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia kali ini. Hari kemerdekaan yang ke-77 dengan slogan pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat.

Ditengah semrawutnya berbagai isu yang datang baik dari segala segi, dangdut kali ini menunjukkan jalannya untuk sedikit memberi hiburan. Baik bagi orang-orang yang hadir langung di istana maupun yang hanya menyaksikan melalui layar kaca. Fenomena dangdut koplo memang telah lama menyebar bak virus yang tak ada matinya. Genre musik satu ini dapat membuktikan dirinya tetap eksis ditengah-tengah masyarakat serta memiliki kancah pasar yang kiranya dapat dinikmati bahkan oleh segala kalangan tanpa terkecuali.

Dilansir dari laman kemenparekraf.go.id, dikatakan  bahwa music dangdut telah ada sejak akhir tahun 1950-an saat di mana musik Indonesia mendapat pengaruh dari musik India, yang kemudian diprakarsai saat kemunculuan film “boneka india”. Seiring berjalannya waktu dangdut terus mengalami perkembangan. Hingga akhirnya lahir dangdut modern pada akhir 1960-an atau menjelang era ’70-an yang jauh lebih matang dalam format kontemporer.

Hingga kini trend musik dangdut terus berkembang. Musiknya yang dinamis selalu bisa dikombinasikan dengan berbagai aliran musik lainnya. Selain itu musik dangdut juga mulai banyak dipelajari diberbagai Negara di dunia termasuk Amerika dan terus eksis sejauh ini.

Selain itu, musik dangdut kerap kali diidentikkan dengan kampanye, bahkan hingga disebut sebagai siasat dalam kampanye. Sampai pada titik ini nampaknya fungsi dangdut tak lagi hanya sekedar hiburan, melainkan jalan untuk menyempurnakan sebuah pesta demokrasi. Peminat dangdut yang tersebar dari berbagai kalangan dan usia membuatnya mudah diterima dan menjadi daya tarik. Tak jarang masyarakat akhirnya menjadikan acara kampanye sebagai ajang mencari hiburan dengan dibumbu-bumbui orasi. Dangdut tak hanya menampilkan nyanyian dan goyangan melainkan dijadikan media untuk menghimbau masyarakat agar tidak golput.

Jauh-jauh hari sebelum munculnya Farel Prayoga, music dangdut telah lebih dulu diprakarsai oleh artis dangdut kawakan lama yang memang memiliki pengaruh besar dalam perkembangannya. Sebut saja seperti Raja dangdut Roma Irama, hingga Didi Kempot. Musik dangdut yang awalnya mengangkat cerita sehari-hari, yang bahasa kininya ‘relate’ dengan kehidupan sehari-hari memberi kesan lebih dekat hingga mudah diingat.

Berdasarkan liputan yang dilakukan oleh Majalah Tempo pada tahun 1979 disebutkan bahwa, irama dangdut yang dibawakan oleh Rhoma Irama sempat mengubah arah produksi music di Indonesia karena laku keras. Pada masa itu, sempat semua pemusik digiring untuk memproduksi music yang berirama melayu dan dangdut.  Rhoma irama jugalah yang menjadikan pergeseran citra dangdut sebagai music kampung menjadi musik rakyat melalui sepak terjangnya di dunia politik kala itu.

Hingga hari ini, penikmat musik dangdut masihlah eksis dan terus bertambah. Barangkali memang dangdut dapat dijadikan sebagai salah satu pemersatu bangsa. Melihat ke belakang pada tanggal 17 agustus lalu, segala ketegangan di ruang rapat DPR dan polemik politik Negara tak tampak sedikitpun baik dari kubu pro ataupun oposisi—jika masih ada hehe. Semua tumpah ruah dalam iringan musik gendang koplo yang dipandu Farel bak sihir. Mungkinkah dangdut bisa terus merekatkan kita? Mungkin saja, atau bahkan dangdut bisa juga dijadikan media menyuarakan perdamaian dengan ketukan khasnya. 

Penulis : Baiq Rosdiana Susanti
Ilustrasi : Baiq Rosdiana Susanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back To Top